Welcome and Have fun ^__^

semoga isi di blog saya yang sederhana ini bisa bermanfaat buat para pengunjung..Maaf kalau ada kata yang salah ya.... Selamat menikmati... :)
Tampilkan postingan dengan label cerpen Gaje. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen Gaje. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2012

Hadiah valentine yang sederhana namun tak ternilai


Seorang pemudi yang sedang sangat senang karena telah menerima banyak hadiah dari teman-teman prianya yang kebanyakan meninginkannya agar jadi pasangan mereka. Yah, seperti hadiah valentine kebanyakan, ada yang member mawar, ada yang member coklat dan beberapa diselingi kartu ucapan didalamnya. Pemudi ini mengira sudah membuka semua hadiah yang diterimanya. Namun, dia melihat ada sebuah kotak yang begitu istimewa. Hanya dibalutkan oleh kertas kado yang harganya pun sangat mudah untuk ditebak. Awalnya dia ingin langsung memberikan kotak itu kepada adiknya seperti beberapa hadiah yang telah diterimanya. Namun ketika dia membuka kotak tersebut yang ada hanya secarik kertas berisikan tulisan dan sebentuk mawar merah yang terbuat dari tisu.
Setelah selesai membaca tulisan itu, dia langsung menaruh mawar tisu itu di sebuah kotak kaca dan meletakkannya dekat dengan fotonya di meja belajarnya. Tak henti-hentinya dia menatap mawar buatan itu, sampai terkadang tersenyum sendiri dan tanpa sadar terkadang sampai meneteskan air mata.  Tak terasa hari sudah malam dan dia pun tidur dengan senangnya. Setelah sebelumnya menyisipkan surat yang ada bersamaan di kotak bersama bunga itu kedalam buku hariannya.
Tulisan di kertas itu seperti ini. “ Aku tau aku bukan orang yang punya banyak uang untuk membelikanmu hadiah seperti yang orang lain lakukan. Kau juga sudah mengenal kesederhanaanku dalam setiap hari pertemuan kita. Apa kau masih ingat ketika tanganmu terluka karena ingin mencuri mawar di sebuah  taman ? Tisu yang telah ku bentuk menjadi mawar itu adalah tisu yang sama saat kau membersihkan luka mu. Warna merah tisu itu tak semata-mata karena darah mu ketika itu, tapi darahku juga karena kemarin aku juga mencuri mawar di taman itu. Sayangnya, karena aku menggenggamnya terlalu erat. Mawar itu jadi rusak dan tak bisa ku kirim kepada mu. Selamat hari valentine yah. Maaf kalau hadiahku kurang berkenan bagimu.”

Selasa, 22 November 2011

Dua puluh lima lilin (horror)

 
Setelah membuat api unggun dan bernyanyi bersama, beberapa orang dari mereka mulai mengeluarkan lilin-lilin dari tas mereka. Kemudian, setelah semua lilin itu dinyalakan maka api unggun itu pun dipadamkan dan sekumpulan pemuda itu duduk melingkar di sekeliling kumpulan kayu yang kini sudah hangus itu. Sepertinya mereka adalah senior-senior sebuah organisasi sekolah yang mungkin ingin menguji mental juniornya yang ingin bergabung  pada organisasi mereka. Hanya ada sekitar sepuluh orang pemudi diantara kedua puluh lima mereka yang berkumpul. Udara yang dingin dan daerah yang cukup sepi jelas menambah keheningan yang sedikit mulai menakutkan seperti yang beberapa dari mereka harapkan. Sebuah lapangan yang hanya dipakai untuk bermain bola pada sore hari itu memang sangat sepi kelihatannya apalagi waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan lewat tiga puluh menitan. Pemukiman pun tidak ada yang dekat disitu.
“Oke, sekarang cerita dimulai dari teman kelas kita yang paling muda dulu.Ceritanya haruslah bertema misteri atau horror. Setelah cerita selesai, maka lilinnya harus ditiup. Yang lain harus menjaga agar lilinnya tidak padam tertiup angin. Kami pun melakukan hal yang sama.”kata seorang yang kelihatannya memimpin acara itu. “Iya kak, saya akan mulai cerita saya.” Kata seorang pemudi. Dia hanya bercerita ketika dia merasa melihat  sesuatu ditengah jalan saat hendak pulang dengan orangtuanya dari rumah neneknya. Dia yang menoleh kebelakang pada saat berada di dalam mobil melihat ada bayangan bawah sebuah tiang lampu jalan. Yang membuat dia merasa aneh adalah tidak ada orang atau objek disana namun ada bayangan. Setelah dia bercerita, lilinnya pun ditiup. Kemudian disusul oleh orang lain yang menceritakan kalau dia pernah melihat sesosok bayangan yang berjalan dalam asap pembakaran sampah. Ada lagi yang bercerita berpapasan dengan seorang gadis, namun waktu dia menoleh kea rah gadis itu, gadis itu hilang entah kemana. Dan ada beberapa cerita yang melihat penampakan yang sama yang katanya berada di belakang sekolah.
Lilin-lilin itu pun mulai padam satu demi satu, beberapa diantara mereka terlihat duduk mulai merapat. Entah karena udara yang dingin, atau karena….Takut. Kemudian tinggalah kini dua buah lilin yang belum padam. Satu milik orang yang merupakan pimpinan organisasi itu, dan satunya lagi milik seorang gadis yang dari tadi terlihat menunduk. Dia bercerita tentang kisah seorang anak gadis yang tewas saat berteduh di bawah sebuah pohon saat hujan lebat. Yang kemudian pohon itu ternyata tersambar petir dan tumbang yang kemudian menewaskannya. Dia pun berkata kalau pohon itu dulunya berada tepat di tempat api unggun yang kini padam itu. “Terus pengalamanmu tentang itu apa?”Kata pimpinan itu. “Kamu pernah melihatnya?” sambung seorang yang lain. Dia yang tetap sambil menunduk berkata “Kita tidak pernah tahu kapan kita akan melihatnya dan kita juga tidak tahu siapa yang akan melihatnya. Aku hanya ingin mengatakan kalau dia ada. Dan di tempat inilah dia meninggal.” Hal itu membuat keadaan menjadi semakin menakutkan. Namun ternyata pada saat giliran si pemimpin itu. Dia hanya berkata. “Ternyata kalian semua termasuk pemberani juga mau ikut pada acaranya ini. Yang ingin aku sampaikan pada kalian bukanlah satu cerita seram, tetapi ucapan selamat bergabung pada organisasi ini. Oke teman-teman nyalakan lampunya.” Kemudian ada beberapa orang yang menyalakan lampu darurat agar tempat itu menjadi terang kembali. Namun mereka menjadi penasaran. Sebab yang ada di tempat itu adalah hanya dua puluh empat orang saja.


image from : mobile9.com

Jumat, 13 Mei 2011

Anak kecil dan cintanya


Pengertian tentang cinta berbeda-beda pada tiap manusia. Bahkan anak kecil pun punya pengertian sendiri tentang itu. Tapi kata “cinta” sendiri justru jarang atau bahkan tidak pernah diucapkan oleh mereka. Usia tak menjamin seseorang akan lebih bijaksana tentang makna dari mencintai. Hanya hati yang benar-benar murni dan tulus lah yang bisa membuka sedikit rahasia cinta itu.
“Hei, boleh kan aku menemani kamu pulang?” pinta seorang anak lelaki kecil pada seorang anak perempuan yang kebetulan adalah teman sekelasnya dan rumah mereka pun tidak berjauhan. “Tentu saja. Kan kita tetanggaan.” Balas anak perempuan itu dengan ceria seperti biasanya. Dalam perjalanan anak perempuan itu bercerita dengan cerianya kepada anak lelaki itu. Sebelum tiba di rumah, anak perempuan itu berkata “Kenapa dari tadi kamu tidak ngomong? Ga seru ah, padahal kan dah pulang bareng?” Anak lelaki itu hanya tersenyum dan meminta maaf namun meminta agar anak perempuan itu masih mau menemaninya.
Sorenya, anak perempuan itu bermain bersama teman-temannya di pinggir sungai. Tak tampak anak lelaki itu bersamanya. Walau tidak ikut bermain, dia ternyata berada tak jauh dari situ duduk sambil memancing. Saking senangnya anak perempuan itu bermain dengan temannya, dia tidak tahu arus sungai mulai menyeretnya. Dikirnya itu adalah bagian dari permainan. “Yuhhuuuu..Hore…” teriaknya sambil menutup mata. Namun saat membuka mata, teman-temannya sudah memanggil–manggil namanya. Takut dan mulai kedinginan, dia pun mulai teriak. “Tolonggg..! Tolong..!” Namun tak ada yang menyahut. Dia pun mulai menutup mata dan berdoa. Semakin terseret  arus, pasrah dan tak lama kemudian tak sadarkan diri.
Dia kemudian membuka matanya, tak lama teman-teman bermain nya langsung menangis dan memeluknya. “Kami kira akan kehilanganmu.” Kata mereka. “Terima kasih sudah menolongku.’ Balasnya lagi. “Seharusnya kamu berterima kasih pada tetanggamu itu.” Balas mereka lagi. Karena hari mulai gelap, mereka pun pulang. Namun si anak perempuan itu masih terlalu lemah berjalan sendiri. Akhirnya dia digendong oleh anak lelaki tetangganya itu.  “Terima kasih banyak ya buat yang tadi. Darimana kamu tahu aku tenggelam?.” Sambil menggendongnya, anak lelaki itu pun menjawab. “Aku tak tahu kapan kamu akan membutuhkan bantuan ku seperti saat sekarang ini. Tapi aku akan selalu ada kapan pun kau butuh bantuan. Makanya aku selalu ada di dekatmu, walau terkadang kamu tidak mengetahuinya. Bagiku sangat menyenangkan melihat senyum dan tawa mu. Boleh kan aku selalu di dekatmu??” Tanya nya lagi. Namun anak perempuan kecil itu sudah tertidur di pundaknya. Keletihan sepertinya….

Kamis, 12 Mei 2011

Cinta anak kecil yang besar


“Kita pulang bareng ya?” seorang gadis kecil yang berumur tujuh tahunan meminta tolong kepada teman sekelasnya yang rumahnya tidak jauh dari rumah gadis kecil ini. “Kenapa?” Tanya anak laki-laki itu. “ Kan rumah kita dekat?? Lagian, aku takut pulang sendirian. Anjing tetangga ku itu pernah mengejarku.” “Oh,baiklah”
Kemudian,mereka pulang bersama dan si gadis keciltadi berkata lagi “Kenapa kamu tidak memegang tanganku seperti sepasang kakak yang pakaian putih abu-abu itu?” “Untuk apa?” “Hmm,ya sudah” kata  gadis itu lagi. Kemudian setelah berjalan tidak begitu jauh, gadis itu langsung menggandeng temannya. “Apa yang kamu lakukan?” Tanya anak Lelaki itu. “Di dekat sini anjing itu pernah mengejarku, aku takut”. Pintanya. “Kamu berlebihan, sudah sana! Lepaskan tanganku !” “Nggak!!” kata gadis itu lagi”Lepaskan!!”teriak anak laki-laki itu. Sesaat setelah dilepaskan, maka anak laki-laki itu berkata. “Sebaiknya aku pulang duluan saja”dia pun langsung berlari. “Tunggu,”kata gadis kecil itu. Tetap saja anak lelaki itu berlari dan gadis itu mengejarnya. Namun dia tidak melihat ada anjing yang mengejarnya. Begitu melihat ke belakang,dia terkejut dan terjatuh. Dia pun berteriak dan menutup mata. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Saat dia membuka mata dia tidak lagi melihat anjing itu. Namun, temannya,anak laki-laki itu sedang memegang kayu. “Maaf sudah membuat mu terjatuh.” Katanya. “Sekarang kau sudah bisa pulang tanpa harus takut oleh anjing itu. Karena aku akan selalu menemanimu."Bagaimana dengan anjing itu?" tanya gadis kecil itu "Anjing itu tak mungkin melukaiku dengan parah. Sebab anjing itu adalah peliharaanku. Demi menenami mu pulang, aku harus mengusirnya bahkan melukainya.”
------------------------------------------------------------------------

Selasa, 13 Juli 2010

Jangan Menyerah....

Langkah lunglai ditemani angin sepoi menemani hari mendungnya. Sendu terlihat diwajahnya. Memang lelah tampak jelas setelah dia masuk dari satu kantor ke kantor yang lain. Map ditangannya mulai tak rapi, tampaknya dia sudah mencoba melamar pekerjaan di beberapa gedung-gedung megah itu namun hasilnya nihil. Clara pun kembali ke rumahnya seolah seperti orang yang kalah berperang.
"Eh,kakak. Udah pulang ya?"
"Gimana pekerjaannya hari ini?"
tanya adiknya sambil membawa minuman hangat untuk kakaknya. Chris adalah anak laki-laki umur 7 tahun. Mereka berdua adalah anak yatim piatu, sebenarnya ayah mereka tidak jelas keberadaannya setelah pergi dari rumah beberapa hari setelah istrinya meninggal.
"Capek banget dik."
balasnya sambil duduk d sofa dan mulai menyalakan tivi untuk ditonton. Clara melihat ke arah tivi,tapi pikirannya tidak.
"Kenapa aku harus bohong pada adikku sediri?Aku kan belum kerja?Lagian uang yang selama ini kami makan,hanya sisa dari tabunganku yang kini mulai menipis. Kalau itu habis bagaimana?"
"Kakak serius amat nontonnya," Kata Chris sambil ikut menonton.
Tiba-tiba air matanya mengalir, dipeluknya adiknya.
"Maaf dik,kakak udah bohong ama kamu."isaknya.
"Maaf buat apa kak?Chris bingung"
"Kakak sudah bohong selama ini, kakak belum ada kerjaan.Sudah sebulan kakak berhenti dari pekerjaan yang lama. Kini kakak hanya pengangguran. Dan juga kakak berangkat tiap hari hanya untuk mencari kerja.Maafkan kakak ya dik."
Sambil menyerahkan tissue,Chris tetap tersenyum.
"Ya udah kak,gitu aja kok nangis. Kan dah gede,harusnya Chris yang minta maaf ama kakak. Chris kan orang yang bikin duit kakak habis. Minta dibeliin jajan,mainan ama yang lain-lain.
Maaf kan Chris ya kak."
"Gimana kalo Chris ikut nemanin kakak cari kerja. Chris bisa kok bawa kertas ama tas yang kakak bawa tiap hari. Ya ya ya.."
"Makasi ya dik, kamu bukan beban buat kakak. Malah kamu yang buat kakak tetap bertahan sampai sekarang."
Sedikit tidak mengerti,namun Chris tersenyum karena sudah melihat kakaknya tidak menangis lagi.
"Chris janji deh buat kakak,nanti kalo Chris udah gede,Chris yang cari duit,jadi kakak bisa istirahat dan ga cape lagi."
"Iya,tapi karena kamu belum gede,jadi kamu baik-baik aja ya dirumah. Bersih-bersih,belajar sambil nunggu kakak pulang ya."
"Ok,kak" Sahut Chris dengan senangnya.
Sehabis makan malam, Chris disuruh agar tidur lebih dulu karena kakaknya ingin membereskan surat-surat yang perlu untuk lamarannya.
Seperti biasa, sebelum Clara tidur, dia menyempatkan ke kamar adiknya itu untuk mencium keningnya dan mengucapkan Have a nice dream.
"Kak,ini aku dah bawa banyak uang,kakak ga usah capek-capek lagi ya. Chris udah kerja nih. Sekarang giliran Chris yang bawa uang." Chris mengigau sesaat sebelum Clara keluar dari kamar itu. Dia menangis melihat semangat adiknya dan dia tahu betapa adiknya menyayanginya. "Hehehehe,Chris senang kakak tertawa." igau Chris lagi.
Keesokan harinya, dengan semangat Clara membangunkan adiknya.
"Adikku sayang,bangun dong."
"Ada apa kak?"sambil ngantuk Chris tetap menjawab.
Tak lama,"Oh iya, Chris ikut nemani kakak cari kerja kan?"Chris tiba-tiba merasa sangat segar.
"Ga usah dik,kakak cuma mau cium kening kamu kok,hehehe. Jangan nakal di rumah ya.Ntar kakak jewer."
"Siap kakak.Hati-hati ya. Semoga pekerjaannya dapat hari ini."
Entah apa yang sekarang dipikiran Clara. Tapi tampaknya dia sangat semangat menjalani hari ini. Walau belum pasti, dia tak akan menyerah untuk tetap ada bagi adiknya.
 

Kamis, 08 Juli 2010

Kejujuran Yang Tersembunyi.......

Stephanie ditemani adiknya bermain kejar-kejaran di tepi pantai. Walau sudah lama berenang,tapi mereka berdua seolah tidak letih meski matahari sudah ingin menyelesaikan apa yang menjadi kewajibannya, sebab terlihat matahari itu sudah tertutupi bukit hijau di sebelah barat sana.
"Kak,sudah saatnya kita pulang." kata Saynd, adiknya.
"Ya udah,"
Sambil mengendarai sepeda butut, mereka tertawa bercerita tentang Saynd yang tadi bajunya sempat terbawa ombak. Lagian, bekas di jarinya masih nyata setelah dijepit oleh kepiting yang ingin ditangkapnya.
Siapa sangka kakak beradik ini hanya tinggal berdua di rumah sederhana mereka yang berada hampir di perbatasan dengan kampung tetangga setelah kedua orang tua mereka meninggalkan mereka, ibunya yang meninggal saat Saynd datang ke dunia, dan ayahnya yang merantau entah kemana, walau pernah terdengar ada kabar yang katakan ayah mereka tenggelam saat mabuk dan terjatuh dari kapal. Namun, ada yang bilang ayah mereka sudah menikah di kota.
Sering terlihat Stephanie merenung di teras rumah dan menatap langit. Seolah bertanya pada sebuah bintang dimana ayah mereka. Seperti malam ini, walau awan menutup cahaya sebagian bintang, dia tetap duduk seolah itu sudah menjadi kewajibannya.
“Bukannya diluar dingin kak?” kata Saynd sambil menyelimutkan jaket yang dulu sering dipakai ayah mereka padanya.
“Eh,kamu.” Katanya lagi pada adiknya.
“Entah kenapa kakak merasa nyaman aja kalau duduk disini dan melihat bintang seolah kakak sedang melihat ibu.”
“Kakak pernah ga nyimpan kebencian ama ku?”
“Hah…pertanyaanmu aneh,mana ada kakak yang benci ama adiknya.”
“Tapi kan kak,karena aku makanya Ibu jadi ga ada disini?”
“Ah, sudahlah,nggak kok,bukan salah kamu kamu datang ke dunia ini. Lagian, kamu udah umur 19 tahun masih aja mikirnya kayak gitu,dasar!” Sambil menepuk punggung adiknya itu.
“Tapi apapun yang terjadi,aku ga akan meninggalkan kamu seperti yang dilakukan ayah 4 tahun yang lalu.” Katanya lagi meyakinkan adiknya.
“Ya udah kak,sudah saatnya kita masuk,kakak mau masuk angin…???Nanti kalau kakak masuk angin jadi suka buang angin lho,kan jorok anak perempuan dah gede tapi sering buang angin”
“Ah,dasar kamu.” Katanya sambil mengejar adiknya itu ke rumah.
Di dalam rumah yang begitu sederhana itu, walau kecil dengan dua buah kamar tidur,ruang makan yang hanya terdiri dari meja petak kecil dan empat buah bangku,dan hanya tiga langkah dari situ ke arah pintu depan ada bangku kecil untuk bersantai sambil menonton televisi atau apalah.
Seperti biasa, Saynd masak makan malam setelah sebelumnya kakaknya yang punya giliran. Yah,begitulah setiap hari.
Paginya, Saynd yang hanya lulusan SMA itu bekerja di sebuah bengkel yang tidak begitu jauh dari rumah mereka. Tidak beda jauh seperti kakaknya yang bekerja di sebuah koperasi. Tidak pernah malu mereka menaiki sepeda butut itu. Walau Saynd baru bekerja dua bulan,tapi dia cukup terampil, dan kakaknya yang sudah bekerja selama dua tahun tetap bekerja dengan baik seperti biasanya.
******
“Wah,capek juga hari ini.” Kata Stephanie sambil duduk bermalas-malasan di kursi di depan televisi itu.
“Sama kak,” balas adiknya.
Segera setelah mandi kakaknya minta ijin agar tidur lebih dulu. Adiknya yang sedang menonton mengangguk tanda setuju.
“Yah,mau ngapain lagi ya?” piker Saynd setelah makan. Yang kemudian dia memutuskan untuk tidur juga.
“Yok kak,kita masih mau kerja nih!!! Tumben kakak masih bobo.” Tidak ada jawaban dari kakaknya.
“Ku hitung sampai lima nih kak,kalau ga, aku duluan nih.”katanya mulai memaksa. Dan masih tidak ada jawaban.
“Aku berangkat ya kak…!!!” teriaknya kemudian dengan sedikit kesal.
Dalam perjalanannya dia masih memikirkan kakaknya.
“Ah pulang dulu ah,karena kesal aku jadi lupa buat sarapan tuk kakak. Jangan-jangan dia jadi marah sama aku.”
Setibanya di rumah,dia masih melihat keadaan yang hening seperti saat ditinggalnya tadi.
Dia masak sebentar.”Ah nanti kalau bos bengkel marah,bilang aja telat bangun,hehehehe” Katanya dalam hati.
“ Kak,sarapan dulu nih.” Tapi kamar itu masih hening.
“Ah,kakak. Masih marah ya karena tadi ku tinggal? Maaf deh,besok ga lagi kak.”
Kemudian dia membuka pintu kamar kakaknya karena penasaran.
Tapi,kamar itu rapi dan tidak ada kakaknya disitu.
Segera dia berlari keluar. Dia mencari di sekitar rumah itu ,tapi nihil. Kakaknya tidak ada disitu.
Saynd yang dalam kepanikannya belari mencari kakaknya. Sudah mau menangis, tapi dia tetap berlari. Kini dia menuju pantai tempat kemarin kakaknya dan dia bersenang-senang. Setelah keliling-keliling,dan mencari-cari,tapi tetap tak ditemukannya.
“KAK STEPHANIE….!!!!DIMANA KAKAK..???”
Terus diulangnya kalimat itu. Berlutut,diam sejenak dan mulai menangis. Dia tampaknya tidak kuat kalau sampai orang yang paling disayanginya itu meninggalkannya.
Padahal kata-kata kakaknya bahwa dia tidak akan meninggalkan adiknya masih kuat diingatan adiknya itu.
Lunglai dia melangkah ke rumah. Jangankan telat,berpikir untuk kerja lagi pun tampaknya tidak ada lagi dipikirannya. Dia sepertinya hanya ingin bersama kakaknya kemana pun, bahkan kepada kematian pun dia tidak takut kalau itu bisa membawanya kepada kakaknya.
“Lho,bukannya kamu kerja?kok dah pulang?”
“Ka..kakak…” seolah tak percaya dia tidak bisa bergerak. Airmatanya tak terbendung,dia menangis sejadi-jadinya sambil berlutut.
Sedikit heran,namun kakaknya ikut berlutut dan memeluknya.
“Katakan ada apa denganmu. Kakak pasti akan membantumu”
“Hiks…Hiks…ta…tadi,ku kira kakak sudah meninggalkan aku.”katanya lagi sambil memeluk kakaknya.
“Dasar anak bodoh,kamu ga percaya janji kakak ya?”
“Sudahlah,mari kita ke dalam dulu,sarapan dulu yuk,kamu buat tuk kakak dan kakak juga udah buat untuk kamu.Sudahlah,kakak sudah disini,tolong jangan nangis ya,dasar manja.”
Mereka pun masuk dan makan bersama.
“Jadi tadi kakak kemana?”Tanya Saynd dengan sangat penasaran tak lama setelah sarapan itu habis dilahapnya dengan cepat,sebab apabila makan sambil ngomong,pasti kakaknya marah.
“Tadi kakak cuma ke warung ya di kampung sebelah kok,kakak mau masakin sarapan buat adik kakak ini. Soalnya warung yang dekat sini kan buka agak siangan.”
Terdiam memang Saynd mendengarkan,tapi dalam hati dia merasa sangat lega sebab orang yang paling berharga baginya masih ada untuknya.
Kemudian, Stephanie membersihkan meja makan mereka dan pergi ke belakang untuk menyucinya. Saynd pun kini minta ijin untuk berangkat kerja lebih dulu.
Di dapur, Stephanie melangkah lemah dan segera membersihkan mimisan di hidungnya. Sesaat dia memang pergi ke warung,namun sebelum itu dia sudah pergi ke tempat dokter yang biasa memberinya resep meringankan rasa sakit yang dideritanya. Sepertinya dia sakit parah, namun hanya dia dan dokter itu yang tahu apa penyakitnya.
“Maaf kan kakak ya Saynd.” Katanya dalam sambil menangis di rumah yang kini sepi itu.
“Aku ga ingin kamu sedih karena penyakitku ini.” Gumamnya sambil membuang resep dari dokter agar tidak ada yang tau apa yang dideritanya.
Entah sampai kapan semua ini bertahan.
………………………………………………………****************************……………………………………………………